Minggu, 06 Januari 2013

My Dear

satu jam sudah pesawat itu membawamu pergi detik-detik berlangsung tragis dalam jiwaku. Derita air mata yang tak mungkin tertahankan lagi. Kekasihku, begitu sulitnya aku bisa memahami pertemuan kita dalam perpisahan ini. Aku selalu bisa sabar dengan penundaan, tapi air mata kesedihan, tidak mungkin aku sangup menahannya dari derita perpisahan ini.

aku masih ingat saat pertama melihatmu lagi. Kau selalu mengejutkanku dengan keindahanmu, juga dengan senyummu sesaat setelah kau bertanya "kenapa?" karena aku memandang wajahmu.

kerinduanmu yang selalu membuatku penuh dengan anugerah juga tak mungkin aku tahankan.

Air mata kesedihan ini terus menyadarkanku tentang pentingnya dirimu dalam hidupku, sekaligus mengingatkanku tentang panjang dan dalamnya derita penantianku kelak.

Aku mencintaimu seperti titik hitam yang tak terjawab pada kesepian dan kemuraman malam. Maka jangan pernah kau memberi tanda cahaya pada matahari pagi, karena kau akan menyilauka bayanganku pada jiwamu. Aku inginm selalu jadi sketsa yang membuatmu tumbuh jadi cahaya, aku ingin kelak aku berakhir jadi gelap saja. ditubuhku yang hitam aku ingin dunia sadar, betapa cahayanya adalah kau!

Aku merindukanmu dengan bahasa yang kadang aku ingkari, aku menyimpan semua luka yang kau perah dari derita matamu kala memandang mataku yang merah membaka. Dimatamu yang tak pernah membara itulah kau melukisku dengan pohon cinta. Tanda yang tak mungkin lagi aku ingkari, dari cinta yangtak pernah kau katakanm selain pada kesepianku.

Pada ruang manakah kau kini pantas dalam hidupku, sayang. Ketika dari kekasih kau telah menjadi hidupku!

Aku mencintaimu, mungkin karena di sana tak pernah ada kepastian seperti senyummu !
Aku merindukanmu, mungkin karena di sana tak ada cahaya seperti hatimu!
Aku memujamu, mungkin karena disana tak ada keindahan seperti jiwamu ! kekasih hanya menjadi utuh jika hidupnya tersusun dari harapan-harapan kekasihnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar